Awit Gending Andriani Wisudawan Terbaik FPSD Pada Wisuda Gelombang III Tahun 2016

Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) UPI kembali melahirkan 97 sarjana baru di bidang pendidikan seni, masing-masing  45 orang dari Departemen Pendidikan Seni Rupa, 21   orang dari Departemen Pendidikan Seni Tari dan  31  orang dari Departemen Pendidikan Seni Musik.  Dalam wisuda  III tahun 2016 ini, wisudawan terbaik diraih oleh Awit Gending Andriani, S.Pd  dari Departemen Pendidikan Seni Tari, dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK)  3,84 dengan predikat cumlaude.  Selain Awit Gending Andriani ada  33 orang  wisudawan lain yang memperoleh predikat cumlaude, masing-masing  13  orang dari Departemen Pendidikan Seni Rupa,  16 orang dari Departemen Pendidikan Seni Tari dan  lima   orang dari Departemen Pendidikan seni Musik.

Wisuda Gelombang III Tahun 2016 Universitas Pendidikan Indonesia dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 14 dan 15 Desember 2016, bertempat di Gedung Gymnasium UPI. Hadir dalam acara wisuda tersebut para anggota prosesi: Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA), Ketua Senat Akademik, Rektor UPI, para Wakil Rektor, Sekretaris Eksekutif, para Dekan, para Wakil Dekan, para Guru Besar para Direktur ,dan  para Ketua Departemen. Selain itu hadir orang tua wisudawan, dan tamu undangan baik sipil maupun militer.

Dalam acara wisuda di hari kedua tersebut, sambutan disampaikan oleh Sekretaris MWA Prof Dr. Ishak Abdulhak, M.Pd, Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Syihabudin, M.Pd, Rektor UPI Prof. Furqon, Ph.D, serta perwakilan wisudawan. Selain sambutan, acara juga diisi dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Alumni UPI yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Pakuan Bogor.

 Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Syihabudin dalam sambutannya mengatakan bahwa: Kegiatan wisuda ini menandai selesainya proses pendidikan pada jenjang tertentu, yang ditunjukkan dengan penguasaan para wisudawan akan ilmu tertentu. Penguasaan ilmu merupakan prasyarat bagi terwujudnya amal saleh, yang pada gilirannya amal itu akan melahirkan kebahagiaan. Banyaknya  ilmu yang dikuasai seseorang tidaklah berguna tanpa dibarengi amal saleh. Suatu  pekerjaan atau profesi disebut saleh apabila perbuatan itu memenuhi empat syarat. Pertama, pekerjaan itu harus benar dan etis. Artinya perbuatan itu dilakukan sesuai dengan kaidah keilmuan yang berlalu, dan etis, yaitu ikhlas karena Allah. Kedua, pekerjaan itu harus bermanfaat bagi pelakunya dan bagi orang lain. Ketiga, pekerjaan itu harus memiliki daya untuk mewujudkan kebaikan dan melenyapkan keburukan.  Dan terakhir, pekerjaan itu harus saling menyempurnakan. Amal duniawi harus menyempurnakan amal ukhrawi dan amal sosial harus menyempurnakan amal ritual. Demikian pula sebaliknya.   

Mengutip seorang sastrawan Mesir Musthafa Luthfi Al-Manfuluti bahwa manusia itu ada empat macam.  Pertama, orang yang berbuat baik kepada orang lain agar suatu saat dia memperoleh balasan atas kebaikannya. Orang ini sebenarnya tiran dan keras hati. Dia tidak melakukan  kebaikan kecuali untuk  memperbudak orang lain. Kedua, manusia yang berbuat baik kepada dirinya, tetapi tidak berbuat baik kepada orang lain. Inilah profil manusia rakus. Kalaulah dia mengetahui bahwa darah yang mengalir itu dapat berubah dan membeku menjadi emas, niscaya  semua manusia dibunuhnya untuk mendapatkan emas itu. Ketiga, manusia yang tidak berbuat baik kepada dirinya,tidak pula kepada orang lain. Inilah orang bakhil yang dungu. Dia rela hidup kelaparan asalkan tabungannya penuh dan asetnya melimpah. Keempat, orang yang berbuat baik kepada dirinya dan berbuat pula kepada orang lain. Inilah manusia yang kita pilih.

 Ilmu yang kita raih juga merupakan modal untuk memupuk rasa percaya diri dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai persoalan. Semua orang pasti mengalami kesulitan. Tapi mereka yang sukses adalah mereka yang tidak pernah menyerah menghadapi setiap persoalan. Kita yakin fa’inna ma’al ‘usri yusran, wa inna ma’al ‘usri yusron: di balik  kesulitan, selalu ada banyak jalan keluar. Mata orang sukses selalu terfokus pada peluang, sedang orang yang gagal selalu berdalih dengan banyaknya kesulitan dan kendala.

Rektor UPI Prof. Furqon, Ph.D dalam sambutannya antara lain menyatakan bahwa: “Dengan segenap potensi yang dimilikinya, sejatinya bangsa Indonesia amat sangat berpeluang menjadi bangsa yang unggul dalam berbagai bidang. Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Mahakuasa potensi sumber daya alam yang melimpah, potensi sumber daya manusia yang luar biasa, serta potensi letak geografis yang strategis, sehingga jika semua potensi tersebut dikelola dan diberdayakan secara optimal, maka Indonesia akan tampil sebagai negara ekonomi keempat terbesar di dunia, paling lambat tahun 2045.

“Namun, hingga kini kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah yang seyogianya diberdayakan bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia belum optimal dimanfaatkan. Karena, kita ketergantungan kepada tenaga dari negara lain dalam mengeksplorasi, mengelola, dan memberikan nilai tambah bagi kekayaan alam yang kita miliki,

 Rektor UPI tidak habis pikir, bagaimana mungkin Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan saat ini masih harus mengimpor garam, kebutuhan sehari-hari yang notabene merupakan salah satu hasil laut. Letak geografis Indonesia yang demikian strategis, berada di antara dua benua dan dua samudera, juga belum dimanfaatkan secara optimal untuk meraih keuntungan sosial-ekonomi yang potensinya sangat besar.

Mengutip pernyataan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dalam sebuah kesempatan, Prof. Furqon mengemukakan, dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia menjadi salah satu negara yang “diincar” banyak negara lain. Sejumlah pihak sudah sejak lama secara sistematis melancarkan apa yang disebutnya sebagai proxy war atau perang tanpa senjata, melalui berbagai cara seperti narkoba dan pornografi, serta pembentukan pola pikir tertentu melalui media masa, media sosial, dan lain sebagainya.

Perang tanpa senjata (proxy war) ini, katanya, secara bertahap dan kultural dapat melunturkan idealisme kebangsaan yang pada gilirannya dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika situasi ini tidak disikapi dengan arif, dan bangsa Indonesia tidak melakukan langkah strategis yang tepat maka boleh jadi suatu saat nanti bangsa Indonesia akan kembali “dijajah” oleh bangsa lain. (a.s fpsd)

Prof. Furqon menjelaskan, salah satu yang membuat bangsa Indonesia masih bisa optimis adalah adanya peluang terwujudnya Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia dan peningkatan perannya pada percaturan global bertumpu salah satunya pada anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, yaitu suatu kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif melebihi jumlah penduduk yang tergolong pada kelompok yang tidak produkf. (a.s fpsd)

You May Also Like