JAVA JES : Ajang Pertemuan Dua Saudara UNJ-UPI

JAVA JES :

Ajang Pertemuan Dua Saudara UNJ-UPI

Konser ensambel gitar dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang bertajuk “Konser Java Jes” menghampiri Departemen Pendidikan Musik FPSD UPI pada hari kamis 5 April 2018 yang lalu. Konser ini merupakan rangkaian terakhir dari Tour JES (Jakarta Enam Senar) yang dimulai dari UNTIRTA, UNNES, UNY dan terakhir UPI. Konser terakhir JES di UPI ini diselenggarakan oleh RGM (Rumah Gitar Mahasiswa) HIMA Departemen Pendidikan Musik FPSD UPI, bertempat di Auditorium A FPSD UPI.

Dalam konser ini, JES membawakan delapan repertoar karya dari berbagai macam komponis, mulai dari karya klasik, modern sampai sebuah arransemen lagu milik Benyamin Sueb yang berjudul “Sang Bango”. Konser yang semula dijadwalkan pukul 16.00 WIB sedikit ngaret karena persoalan soundsystem dan ruang pertunjukan yang kurang memadai, sehingga baru dimulai 30 menit dari jadwal yang disepakati. Di sela-sela pertunjukan, disampaikan sambutan dari kedua belah pihak, yakni Dr. Rien Safrina, M. A. (Ketua Prodi Seni musik FBS UNJ), dan Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M. Pd. (Wakil Dekan I FPSD UPI). Dalam sambutannya Wakil Dekan menyampaikan apresiasinya dan rasa hormat yang mendalam atas kunjungan JES dari UNJ, dan semoga konser ini bisa menginspirasi mahasiswa gitar, khususnya yang tergabung dalam Unit Minat Bakat (UMB) RGM untuk bersemangat kembali berlatih dan konser seperti masa-masa sebelumnya, serta dapat melakukan konser balasan di Jakarta.

Konser ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama: JES menampilkan empat karya yaitu: Bradenburg Concerto No. 3 First Movement dari J.S. Bach, karya barock (1650-1700), karya aslinya untuk chamber string, cukup baik diadopsi dalam format ensambel gitar, walaupun tidak begitu sempurna terutama dalam produksi suara dari 13 pemain gitar yang terdengar kurang jelas karena akustik ruang, namun terlihat mereka yakin memainkanya. Kemudian karya Nutcracker suita Vol. 2 Movement 2,  Dance March: Pyotr Ilyich Tchaikovsky (karya asli untuk solo Piano), Acerca Del Cielo El Aire Y La Sonrisa (1976), karya Leo Brouser (1939), komponis asal Havana Cuba. Karya ini memang diperuntukkan untuk ensambel gitar, sebuah karya yang membutuhkan teknik tinggi, berhasil dimainkan dengan baik oleh JES. Justru karakter ensambel gitar pada konser JES sore itu paling terasa pada karya ini. Karya terakhir pada sesi pertama ditutup oleh A. Furiosa (Maxixe), sebuah karya untuk Gitar Kwartet dari Paulo Bellinati. Pada karya ini nada-nada terdengar agak numpuk dan tempo kedodoran, mungkin problemnya karena karya kwartet lalu dimainkan dengan ensambel gitar dengan 13 orang pemain ditambah kemampuan masing-masing pemain beragam. Sesi kedua: JES memainkan empat karya yaitu: 4.6.24 (M. R. Nadapdap), Grises Y Soles (Maximo D, Pujol), Blue Ocean Echo (Chet Atkins), dan Sang Bango (Benyamin Sueb) arr. (Ricky Oktariza Hermansyah). Dua karya terakhir merupakan jenis karya musik popular, Chester Burton “Chet” Atkins (1924-2001) seorang musisi, penulis lagu, produser rekaman dan vokalis okasional serta tokoh dalam musik country. Karya asli Blue Ocean Echo ini merupakan karya gitar solo dan cenderung elektrik, karena bantuan reverb semacam efeck eletrik untuk memunculkan suara echo (bunyi delay), kemudian teknik finger style (gaya country) dan slide diutamakan. Yang menarik, JES dalam format ensambel 13 orang dapat mengadopsi permainan tersebut dengan baik sehingga menyuguhkan sajian yang segar dan gembira, kemudian lagu sang bango dari Benyamin Sueb diarransemen dengan baik oleh Ricky Octaria Agustian dengan menggunakan biolin sebagai intrumen yang memainkan melodi utama menutup pertunjukan sore itu dengan sempurna.

Pertunjukan sore itu bagi mahasiswa merupakan suatu ajang silaturahmi atas kerinduan mereka terhadap cerita situasi kampus masa lalu yang menawarkan sensasi dan romantika. Mahasiswa mengetahui bahwa keadaan dunia kampus saat ini  semakin sunyi dari komunikasi verbal, komunikasi terjalin melalui dunia maya dan secara tidak langsung memengaruhi mahasiswa menjadi generasi yang canggung ketika komunikasi terjadi dalam arena yang nyata. Diharapkan ajang pertemuan antarkampus sesering mungkin dilakukan, supaya mahasiswa dapat termotivasi dan terinspirasi sehingga dapat mereduksi keterjerembaban mereka dalam dunia khayal dan hedonis (Hery Udo).

You May Also Like

Leave a Reply