#KERONCONG NIGHT 3:

KONSTRUKSI MUSIK KERONCONG A LA ANAK MUDA ERA GLOBAL

Pertunjukan rutin yang diberi tajuk #Kroncong Night 3 yang diselenggarakan oleh Unit Minat Bakat HIMA Departemen Pendidikan Musik FPSD UPI, awalnya merupakan ajang pencarian identitas mahasiswa Departemen Pendidikan Musik FPSD UPI dalam menghadirkan musik keroncong di ruang publik akademisi, terutama mahasiswa UPI. Kemudian lambat laun pencarian ini berujung pada bentuk pertunjukan yang mengakomodir anak muda untuk unjuk kebolehan menafsirkan musik keroncong sesuai dengan kemampuan tafsir masing-masing. Pada pertunjukan #Kroncong Night 3 yang berlangsung pada hari Kamis 12 April 2018 yang lalu, terlihat perkembangan bentuk pertunjukan keroncong ini menuju pluralis, dimana berbagai gaya inovasi keroncong dihadirkan. Maksud dari berbagai gaya ini adalah hadirnya konstruksi gagasan setiap orkes keroncong mulai dari gaya keroncong konvensional a la Jogja, Solo (asli, langgam, stambul dan extra), gaya Toegoe sampai tafsir bebas reka-reka dengan genre musik lainnya. Hal ini sifatnya tidak negatif, justru konstruksi anak muda ini memberikan suatu perubahan dalam kebudayaan keroncong menjadi sub kebudayaan baru sehingga keroncong hidup dan berkembang di kalangan anak muda.

Pertunjukan  #Keroncong Night 3, menampilkan 10 orkes keroncong mewakili setiap angkatan dari 2014 sampai 2017 yaitu: O.K. Kabita (2014), O.K. Badami (2015), O.K. Teh Manis (2015), O.K. Acar Bonteng (2016), O.K. Srikandi (2017), O.K. Bebas Merdeka (2017), O.K. Papi (2017) dan O.K. SIP (2017) juga hadir keroncong dari luar kampus yaitu SirIyai dan O.K. Kareueus dari Cicalengka. Orkes keroncong dari luar kampus ini tetap berafiliasi dengan UPI karena penggagasnya merupakan para alumni Departemen Pendidikan Musik FPSD UPI juga. Beragam hasil gagasan dalam menafsirkan musik keroncong ditampilkan dengan menarik, mulai dari bentuk keroncong dengan format instrumen standar (cello, cak, cuk, bas, gitar, dan instrumen melodi yaitu: flute dan biolin) sampai pada format lebih besar yaitu selain intrumen standar ada penambahan instrumen musik lain, yaitu kajon, brass section (trumpet, saxophone, trombone) hingga instrumen musik sunda, yaitu: kendang, suling bambu, rebab dan kecapi.  Dinamika pertunjukan malam itu cukup menarik, dinamika ini tercipta karena bentuk musik yang dihadirkan merepresentasikan gagasan anak muda sehingga menciptakan subkultur dalam perkembangan musik keroncong itu sendiri, hal ini kemudian menjadi wacana baru dalam perkembangan musik keroncong di Indonesia, kemudian UPI dikatakan sebagai barometer perkembangan musik keroncong anak muda di Indonesia. Legetimasi ini terjadi ketika Departemen Pendidikan Musik FPSD UPI mendapat penghargaan sebagai instansi yang peduli terhadapa musik keroncong pada tanggal 6 April 2018 di aula RRI Kota semarang dari O.K. Congrock sebagai wakil dari masyarakat keroncong di kota Semarang khususnya dan Indonesia umumnya (Hery Udo).

You May Also Like