Di tengah derasnya perubahan lanskap seni rupa hari ini, konsistensi menjadi sesuatu yang semakin jarang ditemukan. Namun hal itu justru tampak kuat dalam pameran tunggal Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi, M.A. berjudul “Jejak Rupa” yang digelar di Galeri Dago Thee Huis, Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung pada 3 Mei 2026.
Gambar 1. Sambutan Tjetjep Rohendi Rohidi saat pembukaan pameran “Jejak Rupa”, Galeri Dago Thee Huiss, TBJB, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Sumber: Alghiffara Maulidansyah, 2026).
Dikuratori oleh Diyanto selaku pengelola Galeri Thee Huis dan diselenggarakan oleh Nayanika Art Gallery ini menghadirkan sekitar 120 karya berupa lukisan, kolase, mixed media, hingga instalasi yang dikerjakan dalam rentang waktu dari tahun 1996 hingga 2026. Pameran ini tidak hanya memamerkan karya-karya terbaru, tetapi juga membuka kembali jejak proses kreatif yang telah ia bangun sejak masa mahasiswa.
“Menunjukkan karya-karya lama itu untuk memperlihatkan bahwa saya bekerja sudah sejak lama, sejak mahasiswa. Jadi bukan tiba-tiba setelah pensiun atau baru-baru saja,” ujarnya saat diwawancarai di sela pembukaan pameran. Pernyataan tersebut menjadi benang merah dari keseluruhan pameran. “Jejak Rupa” bukan sekadar retrospeksi visual, melainkan catatan panjang tentang disiplin, proses belajar, dan ketekunan seorang perupa dalam menjaga praktik berkaryanya selama lebih dari setengah abad.
Lahir di Bandung pada tahun 1948, Tjetjep Rohendi Rohidi (TRR) merupakan alumni Pendidikan Seni Rupa IKIP Bandung (1971-1978) sebelum melanjutkan studi Magister Artium (1983-1985) dan meraih gelar Doktor di bidang Antropologi di Universitas Indonesia (1987-1992). Selain dikenal sebagai Dosen dan Guru Besar di Universitas Negeri Semarang, ia juga aktif berkarya secara konsisten sejak muda.
Kebiasaan berkarya itu, menurutnya, telah tumbuh bahkan sebelum memasuki dunia akademik. Sejak SMA, ia membantu ayahnya yang bekerja sebagai desainer reklame. Pengalaman tersebut membentuk kedekatannya dengan praktik visual sejak dini. “Kerja boleh di mana saja, tapi jangan lupa berkarya,” kenangnya mengutip pesan legenda pelukis Indonesia Alm. Popo Iskandar yang terus ia pegang hingga saat ini.
Gambar 2. Suasana Pameran Tunggal TRR “Jejak Rupa” di Galeri Dago Thee Huiss, TBJB, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026. (Sumber: Alghiffara Maulidansyah, 2026).
Di dalam ruang pamer, semangat eksplorasi itu tampak melalui penggunaan medium yang beragam. Tidak sedikit karya memanfaatkan material sederhana dan benda-benda bekas, mulai dari karung, karton bekas, hingga kertas semen. Bagi Tjetjep, material sehari-hari memiliki kemungkinan artistik yang sama besarnya dengan medium konvensional.
Pandangan tersebut juga ia arahkan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa seni rupa. Menurutnya, praktik berkarya harus dibarengi dengan proses membaca, berdiskusi, dan keterbukaan terhadap perkembangan teknologi. “Kalau berkarya jangan hanya berkarya saja. Membaca buku dan berdiskusi itu penting untuk memperluas wawasan,” ujarnya. Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak takut memanfaatkan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau AI, sebagai bagian dari pengembangan praktik kreatif.
Melalui “Jejak Rupa”, Tjetjep Rohendi Rohidi memperlihatkan bahwa seni bukan hanya soal hasil akhir, tetapi tentang bagaimana seseorang terus menjaga proses, rasa ingin tahu, dan kedisiplinan dalam berkarya. Di usia yang tidak lagi muda, ia menunjukkan bahwa perjalanan artistik tidak berhenti pada pencapaian, melainkan terus tumbuh bersama waktu. Pameran “Jejak Rupa” sendiri masih berlangsung dan dapat dikunjungi hingga 17 Mei 2026 di Galeri Dago Thee Huis, Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung.
Kontributor FPSD Press: Alghiffara Maulidansyah
#FPSDPress#SDGs