Bioskopics by Students from Kota Mitra: Film Mahasiswa Bandung dalam Layar Internasional
Bandung, 26 Oktober 2025 - Hubungan kota kembar antara Bandung dan Braunschweig telah terjalin sejak 24 Mei 1960, menjadi simbol persahabatan lintas benua yang berakar kuat pada kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, dan teknologi. Jejak hubungan itu tampak tidak hanya pada simbol fisik seperti singa merah Braunschweig yang berdiri di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, atau jembatan Bandungbrücke yang membentang tenang di atas Sungai Oker di Bürgerpark tetapi juga pada hubungan manusia dan pertukaran intelektual yang terus tumbuh. Salah satu wujud nyata kolaborasi tersebut hadir melalui kegiatan “Bioskopics by Students from Kota Mitra” atau “Student Films from Bandung in Indonesia”, yang menampilkan karya sinematik mahasiswa Bandung di panggung internasional.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Filmfest Braunschweig, yang memberikan ruang apresiasi bagi karya film mahasiswa dari berbagai negara. Lima film pilihan yang ditayangkan kali ini merepresentasikan keragaman gagasan dan pendekatan estetika mahasiswa Bandung dalam memaknai dunia melalui medium audio-visual. Film-film tersebut tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mengangkat persoalan yang bersifat personal, sosial, politik, ekonomi, hingga refleksi identitas budaya di era globalisasi.
Sebagian besar karya yang diputar berasal dari Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, UPI. Menariknya, proses kreatif mereka berkembang dalam konteks pendidikan yang berbeda: sebagian menempuh studi di jurusan desain komunikasi visual yang menekankan kebebasan bereksperimen, sementara lainnya berasal dari institusi dengan struktur akademik film yang lebih formal. Meskipun berbeda latar, keduanya memiliki satu benang merah semangat independen dan idealisme sinematik yang tumbuh dari bimbingan para dosen yang pernah menimba ilmu di Hochschule für Bildende Künste (HBK) Braunschweig, Jerman.
Kegiatan Bioskopics menjadi momentum penting untuk memperkenalkan perspektif kreatif dan narasi lokal mereka kepada dunia. Dalam edisi kali ini, lima karya pilihan ditayangkan, menggambarkan beragam tema mulai dari refleksi personal hingga isu sosial, politik, ekonomi, dan identitas budaya di tengah arus globalisasi. Di antara karya tersebut, tiga film menonjol karena kedalaman pesan dan kekuatan estetikanya, yaitu “The Last Sikerei”, “Dor! Dor! Dor!”, dan “Less Than Home.”
Film “The Last Sikerei” menyajikan potret manusia dan budaya Mentawai yang tengah berjuang mempertahankan tradisi leluhur di tengah tekanan modernisasi. Film ini berkisah tentang Aman Lepon, seorang sikerei (dukun tradisional Mentawai) terakhir yang menghadapi dilema antara menjaga warisan budaya dan menyesuaikan diri dengan dunia modern. Sementara ia berusaha melestarikan pengetahuan spiritual dan adat yang diwariskan turun-temurun, anak-anaknya justru terombang-ambing antara dua dunia: tradisi dan modernitas. Film ini mengundang refleksi mendalam tentang makna keberlanjutan budaya dan peran generasi muda dalam menjaga identitas lokal di tengah perubahan zaman.
(Sumber: Dok. FPSD Press, 2025).
Berbeda dengan nuansa dokumenter The Last Sikerei, film “Dor! Dor! Dor!” menampilkan pendekatan yang lebih ekspresif dan satir. Ceritanya berpusat pada empat karakter unik Ito, seorang pemuda yang terus-menerus melawan pilek; Reza, sosok mentor bijak; Hendra “Samurai”, perwakilan kultur Sunda dengan karakter kuat; dan Anton, seorang penjahat yang karismatik. Mereka bekerja di bawah perintah seorang bos yang kali ini sangat membutuhkan bantuan mereka untuk menyelamatkan putrinya, Naomi, seorang idola yang diculik oleh penggemar fanatik. Namun, seiring berjalannya misi, situasi berubah kacau, menghadirkan kejadian tak terduga. Melalui penceritaan yang cepat dan dinamis, film ini memadukan humor gelap, kritik sosial, dan gaya aksi yang khas mahasiswa, menghadirkan hiburan sekaligus sindiran terhadap absurditas kehidupan modern.
(Sumber: Dok. FPSD Press, 2025).
Sementara itu, film “Less Than Home” menawarkan pendekatan dokumenter yang intim dan kontemplatif. Film ini mengisahkan perjalanan sejumlah tunawisma dalam upaya mereka mendefinisikan kembali arti “rumah”. Melalui narasi personal yang jujur, penonton diajak menelusuri pengalaman para tokoh yang berhadapan dengan keterbatasan, stigma sosial, dan sistem bantuan sosial yang bersifat sementara. Film ini menggugah kesadaran akan makna “rumah” bukan sekadar sebagai tempat berlindung secara fisik, tetapi juga sebagai ruang eksistensial di mana martabat dan rasa memiliki manusia diuji.
(Sumber: Dok. FPSD Press, 2025).
Di antara tokoh penting yang berperan dalam jembatan budaya ini adalah Dr. phil. Eka Noviana, S.Ds., M.A. dan Dipl.-Kunst. Erik Muhammad Pauhrizi, S.Ds., M.Sch., yang bersama Prof. Ulrich Martin Plank dari HBK Braunschweig menjadi penggerak kolaborasi ini. Melalui kepemimpinan akademik dan visi artistik mereka, kolaborasi Bandung–Braunschweig tidak hanya berfokus pada pertukaran film, tetapi juga pada pertukaran ide, nilai, dan metode pembelajaran kreatif lintas budaya.
Film-film yang ditayangkan mencerminkan cara generasi muda Bandung menafsirkan perubahan sosial yang mereka hadapi. Dalam narasi-narasi yang intim dan reflektif, mereka mengeksplorasi tema seperti pergulatan identitas di tengah arus globalisasi, persoalan ekonomi urban, hingga relasi manusia dengan teknologi dan lingkungan. Beberapa film menampilkan sisi personal yang puitis, sementara lainnya menyoroti realitas sosial dengan gaya dokumenter dan kritik halus terhadap struktur masyarakat modern.
“Bioskopics by Students from Kota Mitra” bukan sekadar pertunjukan film, tetapi menjadi dialog budaya dua arah antara Bandung dan Braunschweig. Melalui karya-karya tersebut, para mahasiswa menunjukkan bahwa film bukan hanya media hiburan, melainkan juga alat refleksi sosial dan diplomasi budaya. Di tengah perbedaan jarak geografis, film menjadi jembatan emosional yang mempererat persahabatan kedua kota kembar ini selama lebih dari enam dekade.
Dengan semangat kolaborasi lintas negara, kegiatan ini menegaskan peran pendidikan seni dalam membentuk generasi kreatif yang berpikir kritis dan berdaya global. Film-film mahasiswa bukan hanya representasi dari kemampuan teknis, tetapi juga cerminan dari kepekaan budaya dan tanggung jawab intelektual yang terus berkembang dalam lanskap pendidikan seni Indonesia.
Kontributor FPSD PRESS: Marsel Ridky Maulana, S.Pd.
#FPSDPRESS#SDGs