FPSD Assistant

Siap membantu Anda

Halo! Ada yang bisa kami bantu? Silakan masukkan nama Anda untuk memulai percakapan.

Kembali ke Daftar Berita
30 January 2024 Artikel

EVOGRAM 1.0: From Zero to Hero

(Membongkar Esensi Seni Patung dan Merayakan Kepahlawanan Melalui Karya Studi Mahasiswa)

\"\"

Galih JK (Dosen Prodi. PSR), 15 November 2023, ruang studio patung Prodi Pendidikan Seni Rupa, FPSD, UPI, menjadi saksi perayaan seni patung yang menjadi perekam jejak proses berkarya. Pameran \"EVOGRAM 1.0: From Zero to Hero\" mengungkap esensi seni patung melalui karya mahasiswa mata kuliah seni patung model. Pameran dibuka oleh dosen pengampu mata kuliah sekaligus kurator Dr. Dadang Sulaeman, S.Pd., M.Sn. dan Galih Jatu Kurnia, S.Pd., M.Sn.

Setiap karya dalam pameran ini merupakan luaran dari proses studi selama lebih kurang 10 pertemuan dan implementasi pembelajaran Team Base Project. Luaran berupa karya seni patung yang menjadi bukti dari pemahaman mendalam tentang konsep dan teknik seni patung yang diwujudkan dalam patung model seperempat tubuh. Sementara pameran dan seluruh perangkatnya sebagai bukti kemampuan mengelaborasi teori menejemen seni, publikasi karya seni dan pemanfaatan teknologi dan media informasi dan komunikasi.

Penggunaan tanah lempung sebagai medium membawa nuansa alami pada karya dan mengingatkan kita pada nilai dasar estetika, terutama estetika alami yang ditekankan dalam gerakan seni rupa abad ke-19. Pemilihan model seperempat tubuh tidak hanya menuntut keterampilan teknis tetapi juga mengandung makna filosofis. Model ini memberikan penekanan pada bagian tubuh yang paling mengekspresikan identitas dalam konteks tema “pahlawan”, seperti anatomi, atribut dan ekspresi.

Progres proyek seni patung mahasiswa dari model anak hingga model dewasa mencerminkan perkembangan ide dan teknik, sesuai dengan pendekatan estetika evolusioner. Dalam sejarah seni rupa, evolusi konsep seni selalu terjadi seiring waktu. Pameran ini menjadi saksi perjalanan intelektual mahasiswa, menggambarkan perubahan konseptual dan teknis yang terjadi sepanjang studi mereka. Ini sejalan dengan pemahaman bahwa seni adalah refleksi dari masyarakat dan waktu di mana seniman hidup.

Pada ahirnya, projek ini tidak hanya menciptakan karya dan ruang untuk pameran seni, tetapi juga sebagai wahana pembelajaran dan inspirasi. Dalam konteks estetika edukatif, pameran seni diakui sebagai alat untuk mengembangkan pemahaman estetika bagi apresiator. Melalui karya-karya ini, pengunjung diajak untuk merenung tentang keberanian, kekuatan, dan jiwa kepahlawanan yang ada dalam diri sendiri dan di sekitar mereka, mengingatkan pada nilai-nilai estetika yang mewujud dalam pengalaman seni. Diaharap, nilai dari karya dan pameran ini dapat terefleksi dan berdampak bagi kita semua.

Bagikan Artikel: