FPSD Assistant

Siap membantu Anda

Halo! Ada yang bisa kami bantu? Silakan masukkan nama Anda untuk memulai percakapan.

Kembali ke Daftar Berita
02 July 2026 Artikel

FGD Pendidikan Seni BSAF 2026 Dorong Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi

FGD Pendidikan Seni BSAF 2026 Dorong Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi

Bandung — Dalam rangkaian Bandung Student Arts Festival (BSAF) 2026 sebagai ruang apresiasi karya siswa melalui screening animasi dan pameran ilustrasi, juga menjadi forum penting untuk membahas masa depan pendidikan seni dan industri kreatif. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan FGD Pendidikan Seni Bandung Student Arts Festival 2026 yang diselenggarakan pada Kamis, 25 Juni 2026, di Auditorium Lt. 7 Gedung FPSD Universitas Pendidikan Indonesia.


Mengusung tema “Penguatan Ekosistem Pendidikan Seni dan Kreatif melalui Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi,” FGD ini mempertemukan dosen, guru produktif, guru seni budaya, perwakilan sekolah, serta panitia BSAF. Forum tersebut menghadirkan sejumlah pemantik diskusi, yaitu Tressa Triandy, S.Pd., Gr. selaku Guru Animasi SMK Telkom Bandung, Putri Resky Utami, S.Pd. selaku Guru SMKN 14 Bandung, Salsa Sollinafsika, M.Pd. selaku Dosen Prodi Film dan Televisi FPSD UPI yang mewakili Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FPSD UPI, serta Galih Jatu Kurnia, S.Pd., M.Sn. selaku Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa UPI dan Pembimbing Kemahasiswaan yang mewakili Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa UPI. Diskusi dipandu oleh Lutfya Maliha, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa UPI.


Dalam pengantarnya, Galih Jatu Kurnia menekankan bahwa BSAF dirancang sebagai ruang apresiasi sekaligus distribusi pengetahuan dan keterampilan kreatif bagi siswa dan mahasiswa. Menurutnya, banyak produk akademik siswa yang selama ini hanya berhenti sebagai tugas sekolah dan belum memperoleh ruang presentasi yang lebih luas.


Gambar 1. Diskusi Penguatan Ekosistem Pendidikan Seni dan Kreatif melalui Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi (Sumber: FPSD Press, 2026)


Dari perspektif sekolah, Putri Resky Utami menyampaikan bahwa BSAF memberikan peluang penting bagi siswa untuk menampilkan karya di luar ruang kelas. Ia menilai banyak siswa memiliki kemampuan yang baik, namun belum selalu memiliki ruang yang tepat untuk menyalurkan dan mempresentasikan karyanya. Senada dengan hal tersebut, Tressa Triandy menjelaskan bahwa di SMK Telkom Bandung, upaya membangun ekosistem kreatif siswa sudah mulai dilakukan dengan mendorong karya siswa agar tidak berhenti di lingkungan sekolah. Menurutnya, karya siswa perlu didistribusikan ke publik dan dihubungkan dengan pembentukan identitas kreatif.


Pembahasan tersebut menjadi penting dalam konteks industri kreatif yang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. Siswa tidak hanya dituntut mampu menguasai perangkat lunak atau teknik produksi, tetapi juga perlu memahami gagasan, karakter karya, proses kreatif, cara presentasi, dan komunikasi dengan publik. Dalam bidang animasi, ilustrasi, desain, dan media kreatif, kemampuan membangun identitas karya menjadi bagian penting dari kesiapan menuju pendidikan tinggi maupun dunia industri.


Salsa Sollinafsika menilai bahwa BSAF dapat menjadi bentuk inkubasi awal bagi siswa sebelum memasuki perguruan tinggi atau ekosistem kreatif yang lebih luas. Menurutnya, festival semacam ini dapat membantu siswa memahami bahwa karya seni memiliki ruang apresiasi dan peluang pengembangan yang lebih luas.


Gambar 2. Penandatanganan kerjasama FPSD UPI dan Sekolah (Sumber: FPSD Press, 2026)


Isu perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau AI, turut menjadi perhatian dalam diskusi. Para peserta menilai bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari, tetapi perlu dipahami secara kritis. Dalam pendidikan seni, teknologi sebaiknya tidak menggantikan proses kreatif siswa, melainkan menjadi alat yang digunakan secara etis, sadar, dan bertanggung jawab. Karena itu, sekolah dan perguruan tinggi perlu bersama-sama merumuskan panduan, kriteria, dan pemahaman yang jelas mengenai penggunaan teknologi dalam produksi karya. Isu AI juga mendapat perhatian dari Rezar W. Prandiga, guru SMK sekaligus Ketua Pelaksana BSAF 2026. Ia menilai bahwa perkembangan teknologi perlu direspons dengan jelas agar tidak menimbulkan kontroversi dalam proses produksi maupun penilaian karya.


FGD ini juga menyoroti pentingnya integrasi lembaga pendidikan. Sekolah memiliki kedekatan langsung dengan proses pembelajaran siswa, sementara perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik, kuratorial, riset, dan jejaring pengembangan pendidikan seni. Ketika keduanya terhubung, peluang pengembangan talenta siswa menjadi lebih besar. Kolaborasi ini dapat membuka jalan bagi penguatan portofolio siswa, pengembangan minat studi lanjut, pengenalan profesi kreatif, hingga hubungan yang lebih nyata dengan ekosistem industri.


Dalam sesi diskusi, M. Zam-zam, guru seni budaya dari tingkat SMP, mengapresiasi BSAF sebagai gerakan pendidikan seni yang mempertemukan dosen dan guru. Ia menilai forum ini membuka kesadaran bahwa karya siswa tidak semestinya berhenti di sekolah. Sementara itu, Redy N. Saputra, guru SMK, menyoroti bahwa salah satu tantangan besar industri kreatif di Indonesia adalah kurangnya budaya apresiasi. Menurutnya, BSAF dapat menjadi pemantik lahirnya kerja sama yang lebih konkret antara sekolah, perguruan tinggi, dan ekosistem kreatif.


Selain diskusi, rangkaian FGD juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara FPSD UPI dengan SMK Telkom Bandung dan SMKN 14 Bandung. Penandatanganan ini menjadi penanda penting bahwa BSAF tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi diarahkan sebagai program kolaboratif yang berkelanjutan antara sekolah dan perguruan tinggi.


Dari forum tersebut, muncul harapan agar BSAF dapat dikembangkan sebagai festival seni siswa tahunan. Pada penyelenggaraan awal, festival ini masih berfokus pada animasi dan ilustrasi. Ke depan, BSAF diharapkan dapat memperluas cabang seni yang difasilitasi, seperti desain grafis, seni rupa murni, kriya, film, musik, tari, teater, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif lainnya. Dengan perluasan tersebut, BSAF berpotensi menjadi ruang pemetaan talenta seni siswa di Bandung Raya, bahkan bisa berkembang ketingkat Nasional dan Internasional.


Dengan semangat “Celebrating Young Creativity, Connecting Art Education,” Bandung Student Arts Festival 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya festival seni siswa yang berkelanjutan, berdampak, dan mampu memperkuat hubungan antara pendidikan seni, produk kreatif siswa, serta kebutuhan industri kreatif masa depan.


Kontributor FPSD Press: Lutfya Maliha

#SDGs#FPSDPress

Bagikan Artikel: