FPSD Assistant

Siap membantu Anda

Halo! Ada yang bisa kami bantu? Silakan masukkan nama Anda untuk memulai percakapan.

Kembali ke Daftar Berita
18 June 2026 Artikel

HARU BIRU: Arsip Emosi dalam Jejak Visual

HARU BIRU: Arsip Emosi dalam Jejak Visual

Pameran sketsa sebagai ruang apresiasi proses kreatif mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI dalam merekam pengalaman, pembelajaran, dan ekspresi visual melalui garis. Bandung, 15 Juni 2026 - Lorong Lantai 6 Gedung Baru Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Universitas Pendidikan Indonesia tampak lebih hidup pada Senin pagi. Sejak pukul 09.00 WIB, mahasiswa, dosen, akademisi, serta pengunjung mulai berdatangan untuk menghadiri pembukaan pameran sketsa “HARU BIRU: Arsip Emosi dalam Jejak Visual”. Pameran ini merupakan hasil dari proses pembelajaran mata kuliah Sketsa yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Semester 4.


Mengusung gagasan bahwa setiap sketsa menyimpan lebih dari sekadar bentuk visual, pameran ini menampilkan karya-karya yang merekam proses pengamatan, pengalaman, pencarian artistik, serta perkembangan kemampuan mahasiswa selama satu semester. Beragam karya yang dipamerkan lahir melalui eksplorasi berbagai teknik dan subject matter, mulai dari still life, landscape, human figure, hingga animal figure.


Pameran ini dihadiri oleh Yulia Puspita dan Dr. Tri Karyono sebagai dosen pengampu, Andi Suryadi sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Galih Jatu Kurnia sebagai Dosen Pembimbing Kemahasiswaan, serta Dr. Bandi Sobandi sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Umum.


Sambutan Ketua Pelaksana: Rifqi Hidayat Permana

 

Acara pembukaan diawali dengan sambutan Ketua Pelaksana, Rifqi Hidayat Permana. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pameran ini bukan hanya menjadi ruang untuk menampilkan hasil akhir karya mahasiswa, tetapi juga memperlihatkan perjalanan kreatif yang melatarbelakanginya.


“Melalui pameran “HARU BIRU”, kami ingin menyampaikan bahwa seni memiliki kemampuan untuk menjembatani pengalaman batin dengan realitas yang dihadapi sehari-hari. Setiap karya mengandung cerita, perasaan, dan proses pencarian yang berbeda, namun semuanya berbicara tentang kemanusiaan yang sama. Kami berharap pameran ini dapat mengajak pengunjung untuk lebih peka terhadap emosi, menghargai setiap proses perjalanan kreatif, serta menemukan makna baru dari garis-garis sederhana yang ternyata menyimpan kisah yang mendalam,” ujarnya.


Tim kurator menjelaskan bahwa istilah “Haru Biru” dipilih untuk menggambarkan berbagai pengalaman emosional yang hadir selama proses pembelajaran dan penciptaan karya. Dalam pameran ini, sketsa dipahami sebagai arsip emosi yang merekam pertemuan antara pengamatan, intuisi, imajinasi, dan pengalaman personal.


Sambutan berikutnya disampaikan oleh dosen pengampu mata kuliah Seni Lukis, Dr. Tri Karyono, M.Sn. Beliau menekankan bahwa sketsa merupakan pondasi penting dalam proses penciptaan karya seni karena mampu melatih sensitivitas visual, kemampuan observasi, serta keberanian mahasiswa dalam bereksplorasi.


Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Andi Suryadi, S.Pd., M.Sn., mengapresiasi terselenggaranya pameran ini sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan perkembangan artistik sekaligus memperkenalkan hasil belajar kepada publik yang lebih luas.


Selepas sambutan, acara dilanjutkan dengan peresmian simbolis pameran oleh Dr. Tri Karyono sebagai perwakilan dosen pengampu, Andi Suryadi sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa, serta Dr. Bandi Sobandi sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Umum. Berbeda dengan pembukaan pameran pada umumnya, peresmian HARU BIRU dilakukan melalui penetesan tinta berwarna biru ke dalam sebuah akuarium transparan. Simbol tersebut merepresentasikan beragam emosi, pengalaman, dan proses kreatif yang saling bertemu serta membentuk jejak visual dalam setiap karya yang dipamerkan.


Peresmian simbolis HARU BIRU


Momentum ini menandai dibukanya secara resmi pameran HARU BIRU yang akan berlangsung pada 15–17 Juni 2026 dan terbuka bagi sivitas akademika maupun masyarakat umum.


Usai peresmian, para pengunjung mulai menelusuri area pameran yang menampilkan karya-karya hasil eksplorasi mahasiswa. Keberagaman pendekatan visual yang ditampilkan menunjukkan bagaimana proses belajar yang sama dapat menghasilkan ekspresi artistik yang berbeda-beda. Setiap karya menghadirkan karakter visual yang unik, dipengaruhi oleh pengalaman, intuisi, serta cara pandang masing-masing perupa.

 

Selain karya individu, pengunjung juga dapat menyaksikan karya kolektif bertema animal figure yang dikerjakan bersama melalui metode collective painting pada media kanvas. Karya ini menjadi representasi kolaborasi, keberagaman perspektif, dan semangat berkarya mahasiswa selama mengikuti perkuliahan.

Karya tersebut memadukan berbagai interpretasi visual mahasiswa melalui penggunaan warna-warna hangat untuk merepresentasikan hewan darat dan warna-warna dingin untuk menggambarkan hewan air, sehingga membentuk lanskap visual yang mencerminkan keberagaman perspektif dan pengalaman emosional para pembuatnya.


Collective painting mahasiswa


Selain menampilkan karya sketsa pada media pamer, HARU BIRU juga menghadirkan buku portofolio mahasiswa yang berisi karya selama perkuliahan. Portofolio tersebut memuat berbagai hasil eksplorasi teknik sketsa monokromatis dan polikromatis yang dikembangkan mahasiswa melalui beragam objek pengamatan dan pendekatan visual. Kehadiran buku portofolio ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menelusuri lebih dekat perkembangan proses kreatif, eksperimen visual, serta perjalanan artistik masing-masing mahasiswa selama mengikuti mata kuliah Seni Lukis.


Melalui pameran ini, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI tidak hanya mempresentasikan hasil pembelajaran, tetapi juga mengajak pengunjung untuk memahami bahwa proses, pengalaman, dan perjalanan kreatif merupakan bagian penting yang membentuk sebuah karya seni. Di tengah budaya visual yang serba cepat, HARU BIRU hadir sebagai ruang untuk kembali menghargai jejak-jejak proses yang tersimpan dalam setiap garis dan sapuan visual.


Kontributor FPSD Press: Nadya Maisun Salsabila Sugiana dan Rahmi Rossi Rusova

#SDGs#FPSDPress

Bagikan Artikel: