FPSD Assistant

Siap membantu Anda

Halo! Ada yang bisa kami bantu? Silakan masukkan nama Anda untuk memulai percakapan.

Kembali ke Daftar Berita
18 July 2025 Artikel

 “Nocturne Reverie”: Saat Musik Gesek Membawa Penonton Menyusuri Senja Hingga Sunyi Malam

 “Nocturne Reverie”: Saat Musik Gesek Membawa Penonton Menyusuri Senja Hingga Sunyi Malam

“Nocturne Reverie”: Saat Musik Gesek Membawa Penonton Menyusuri Senja Hingga Sunyi Malam

Di tengah semarak kehidupan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hadir satu malam yang berbeda: penuh kontemplasi, kelembutan, dan energi musikal yang mendalam. Pada Rabu malam, 16 Juli 2025, unit mahasiswa berbasis string ensemble, UMB Stringentissimo, kembali menggelar konser tahunannya bertajuk Nocturne Reverie: Beyond the Dusk, Where Reverie Awakens. Bertempat di Lobby Gedung FPSD ADB UPI, konser dimulai tepat pukul 19.15 WIB dan disambut hangat oleh audiens yang memenuhi lantai dasar hingga balkon lantai dua.

Sebuah Perjalanan Musik yang Naratif dan Emosional

Mengusung tema “Beyond the Dusk, Where Reverie Awakens”, konser ini menghadirkan narasi musikal yang mengajak penonton menyusuri perubahan suasana dari hiruk pikuk siang hari menuju keheningan malam. Empat karya dipilih sebagai representasi perasaan dan perenungan yang kerap muncul saat langit meredup: Bytes and Pieces (Tony Osborne), Firedance (Soon Hee Newbold), Lullaby to the Moon (Brian Balmages), dan Romance Op. 11 (Gerald Finzi).

Pembuka konser, Bytes and Pieces, langsung menyuguhkan ritme cepat dan struktur ringan khas orkestra modern. Komposisi ini memunculkan nuansa digital yang energik, sesuai dengan permainan kata dalam judulnya yang mengacu pada “bits and pieces.” Perpindahan ke Firedance membawa intensitas baru melalui permainan dinamis dan kuat, menggambarkan kobaran semangat dan perjuangan dalam bentuk musikal.

Suasana kemudian bergeser menjadi tenang dan reflektif dengan Lullaby to the Moon. Karya ini menjadi titik kontemplatif yang mengajak audiens larut dalam keheningan malam, seolah menjadi doa sunyi bagi jiwa-jiwa yang lelah. Sebagai penutup, Romance Op. 11 menghadirkan kelembutan dan emosi dalam frase-frase panjang nan melodius, memberikan akhir yang syahdu sekaligus menggugah.

Interpretasi yang Penuh Ketelitian dan Sensitivitas Musikal

Kualitas pertunjukan tidak lepas dari disiplin dan latihan panjang para pemain, yang mayoritas berasal dari Program Studi Musik. Mereka menunjukkan kedewasaan musikal, khususnya dalam menjaga intonasi, artikulasi, dan keseimbangan antar instrumen.

Penampilan tersebut tak hanya mendapat tepuk tangan meriah dari penonton yang hadir, tetapi juga apresiasi dari kalangan dosen, musisi dan mahasiswa. Beberapa pengamat menilai konser ini sebagai salah satu pertunjukan mahasiswa yang matang secara artistik dan tersusun dengan baik dari sisi teknis. "Ini pertunjukan berkelas, profesional dan sudah selayaknya mendapat apresiasi tinggi melalui manajemen yang profesional", ujar Ivan dari salah satu even organizer besar kota Bandung.

UMB Stringentissimo telah menjadi ruang penting bagi mahasiswa yang tertarik pada musik gesek, mulai dari biola, viola, cello, hingga kontrabas. Komunitas ini bukan sekadar tempat latihan, tetapi juga wahana pembentukan karakter musikal, kolaborasi lintas angkatan, dan panggung aktualisasi kemampuan secara berkala.

Novi Purnama, M.Pd., dosen pembimbing UMB Stringentissimo, menyampaikan pandangannya usai konser. “Konser ini bukan hanya tentang tampil, tetapi juga membentuk kesadaran musikal kolektif di antara para mahasiswa. Saya melihat kemajuan signifikan dari sisi musikalitas, terutama dalam bagaimana mereka membangun koneksi emosional dengan repertoar yang dimainkan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa string ensemble memiliki potensi besar sebagai bentuk praktik kolaboratif dalam pendidikan musik tinggi. “Ke depan, saya berharap UMB Stringentissimo bisa menjadi ensemble yang tidak hanya aktif di lingkungan kampus, tetapi juga tampil di ruang publik dan mewakili wajah pendidikan seni pertunjukan di UPI.”

Nocturne Reverie menunjukkan bahwa musik, terutama dalam format ensambel gesek, masih memiliki daya hipnotik yang kuat dalam menciptakan ruang keheningan sekaligus permenungan kolektif. Konser ini bukan hanya menyentuh telinga, tetapi juga batin, membuktikan bahwa di balik senyap malam, ada gema reverie yang membangkitkan kesadaran akan kedalaman rasa manusia.

Konser malam itu tak hanya berakhir dengan tepuk tangan, tetapi juga dengan harapan baru bagi keberlangsungan musik klasik dan kontemporer di ranah pendidikan tinggi.

Mauludi Putra #FPSD Press #SDGs

Bagikan Artikel: