FPSD Assistant

Siap membantu Anda

Halo! Ada yang bisa kami bantu? Silakan masukkan nama Anda untuk memulai percakapan.

Kembali ke Daftar Berita
30 April 2024 Artikel

Pertunjukan Tari Kolosal “Human Trafficking” Sebuah Kritik Sosial Perdagangan Manusia

Pertunjukan Tari Kolosal “Human Trafficking” 

Sebuah Kritik Sosial Perdagangan Manusia

Oleh: Yana Endrayanto

Adegan Para Korban Human Trafficking yang terbelenggu penjara

Photo: Adhit

Tema “Human Trafficking” menjadi isue yang menarik di akhir-akhir ini. Dari sumber penelitian diperkirakan sekitar 1.220.000 orang Indonesia menjadi korban Human Trafficking menurut data The Global Slavery Index. Sumber yang sama juga menaksir bahwa 70.000-80.000 anak-anak Indonesia dijual untuk seks, bahkan dipercaya angka tersebut lebih tinggi di lapangan. 

Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab tindakan kejahatan perdagangan manusia. Kondisi kemiskinan dan sulitnya mendapat pekerjaan karena jumlah pelamar kerja masih besar dibandingkan jumlah penyedia tenaga kerja.  Hal tersebut kemudian mendorong seseorang untuk mencari pekerjaan meskipun harus keluar meninggalkan kampung halamannya.  Kemiskinan yang berat cenderung mendorong seseorang untuk melakukan migrasi dengan harapan mendapatkan kehidupan yang layak. Hal ini kemudian membuat mereka gampang tergiur oleh ajakan seseorang untuk bekerja ke luar negeri atau luar kota tanpa mengetahui apakah lembaga tersebut resmi atau tidak.  Faktor pendidikan rendah  Rendahnya pendidikan di kalangan masyarakat, khususnya mereka yang mengalami kondisi kemiskinan menjadi kesempatan bagi para pelaku untuk memperdayai korban.  Pelaku menjanjikan pekerjaan tanpa harus memiliki tingkatan pendidikan yang tinggi sehingga para korban mudah terbujuk, tanpa mempertanyakan kelayakan pekerjaan yang akan didapat.

Pada acara pembukaan Futsal 60 jam Non-Stop” di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, 26 April 2024. Keberhasilan bermain futsal 60 jam yang berlangsung pada tanggal 26 April 2024 di Gymnasium UPI dipertunjukan Tari Kolosal (opening ceremony) yang dipersembahkan oleh UPT Kebudayaan UPI dibawah Wakil Rektor 3 bidang Inovasi, Kebudayaan dan Sistem Informasi (IKSI) yang bekerjasama dengan Prodi Seni Tari, Prodi Pendidikan Musik Dan Seni Musik, Prodi Desain Komunikasi Visual dan Prodi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni Dan Desain (FPSD). Juga didukung oleh mahasiswa FPTK, FPBS, FPEB, FPIPS, FPMIPA Dan FPIPS yang tergabung dalam UKM KABUMI dan Teater Lakon UPI. Selain itu, event ini digarap oleh Ivent Organizer Global Pariwarna Solusindo yang dinahkodai oleh Vita Gandina.

Pementasan ini menggunakan 200 orang penari dan 50 orang musisi yang berstatus dosen dan mahasiswa UPI yang dipentaskan di atas arena yang berukuran 20 m x 50 m. Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd. sebagai Kepala UPT Kebudayaan UPI sekaligus sebagai dramaturg membuat pertunjukan ini dengan waktu yang cukup singkat. Adapun choreografer adalah Galih Mahara yang dibantu beberapa orang co-choreografer, yaitu, Egi Rifaldi, M.Pd., R. Angga Gusmawan Sukma, S.Pd., Rizky Haeruman, S.Pd., dan Dilan Ardiansyah. Adapun naskah ditulis oleh Indra Gandara, S.Pd. dan Amirush Shaffa Fauzia, M.P. juga sebagai voice over, Penata Musik oleh Enry Johan Jaohari, M.Pd., penata lampu oleh Aji Sangiaji, mapping dinahkodai oleh Yana Endrayanto dan Tim Prodi DKV dan Penata Artistik oleh Yuki Manjasad. Dua penari terbaik UPI, yaitu Uus Yusuf Rizal, S.Pd. dan Tazkia Putri Hariny, S.Pd. turut serta dalam pertunjukan ini.

Gimmick dimulai dari temaram lampu parcan yang menyoroti panggung arena seluas 50 m x 20 m. Kemudian layar putih yang di sorot lampu laser yang memperlihatkan slide-slide foto manusia yang tangannya ditali, mulut yang lakban dan kondisi dalam penjara, sungguh mencekam suasana ini, kemudian munculah para penari dari kiri dan kanan panggung dengan berkebaya dan berbalut ornamen kain merah. Adegan pertama menceritakan kehidupan orang-orang  pedesaan yang perekonomiannya sangat lemah. Adegan kedua menceritakan kedatangan orang-orang yang memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengajak masyarakat desa bekerja di suatu tempat, namun dibohongi. Mereka diperjualbelikan, diperkerjakan tanpa di bayar, dan bekerja ditempat prostitusi. Adegan ketiga menceritakan penderitaan yang dilakukan korban Human Trafficking dengan simbol penjara, tali yang terikat dan lecutan cemeti dari para pelaku Human Trafficking. 

\"\"

Properti Tali Yang Mengikat Tangan Penari Simbol Penderitaan Para Korban Human Trafficking 

Photo: Adhit

Adegan akhir adalah sebuah harapan para korban Human Trafficking untuk bebas dari belenggu. Adegan ini ditulis dalam sebuah lagu karya Enry Johan Jaohari, M.Pd. (Dosen Seni Musik, FPSD UPI) yang berjudul “Rays of Resilience” yang dinyanyikan oleh Tasya Aviola Rashinta (Mahasiswa Prodi Seni Musik UPI) yang menggambarkan tentang harapan para korban Human Trafficking untuk hidup yang lebih baik tanpa belenggu dan penderitaan.

\"\"

Tasya Aviola Rashinta Menyanyikan Lagu “Rays Of Resilience” Sebagai Ungkapan Harapan Yang Lebih Terang Para Korban Human Trafficking

Photo: Adhit

Adapun koreografi dibuat secara kolosal dengan menonjolkan garis-garis tegas yang menyimbolkan tekad para korban Human Trafficking untuk keluar dari belenggu penderitaan. Aspek dasar koreografi kelompok dikembangkan sesuai konteks adegan dengan gerak simultan, canon, alternate, broken dan balance. Properti tali dan bentuk persegi panjang yang menyerupai penjara sangat ikonik dan menjadi penguat suasana penderitaan para korban Human Trafficking.

\"\"

(Formasi Akhir Pada Pertunjukan “Human Trafficking” Yang Menggambarkan Harapan Dan Kesadaran Pada Kasus Perdagangan Manusia

Photo: Adhit)

Diharapkan mahasiswa UPI bisa mendapat pengalaman dari proses pementasan ini, Proses ini harus dilakukan dengan hati yang tulus karena karya seni yang baik dihasilkan dari kerja yang tulus. Dari keseluruhan pertunjukan penonton bisa mengerti tentang pesan dari pertunjukan dan sangat terpuaskan dengan tepuk tangan yang panjang dan menuai banyak pujian dari para penonton dan sambutan Rektor UPI yang memuji dan berkata  “luar biasa”, sementara itu salah satu penonton berseru “beyond expectations”.

Bagikan Artikel: