"Iwan Gunawan dan Ensemble Kyai Fatahillah: Menyulam Tradisi dan Inovasi Gamelan Kontemporer"
Bandung, 14 September 2025 – Acara ini digelar tanggal 13 September di Salihara Art Center, Jakarta. Gamelan telah menjadi medium ekspresi musikal yang terbuka dan melampaui batas-batas etnis maupun geografis. Jakarta Contemporary Gamelan Festival (JCGF) 2025 hadir untuk membangun ruang ekspresi dan pertemuan para pelaku gamelan kontemporer dari berbagai latar belakang—baik tradisi maupun eksperimental. Festival ini menampilkan pertunjukan musik, diskusi publik, dan program residensi untuk mendorong penciptaan karya baru. Dengan tema “Diversity in Gamelan”, festival ini mengangkat keberagaman bentuk, pendekatan, dan visi musikal yang muncul dari praktik gamelan saat ini.
Foto: Iwan Gunawan sebagai salah satu nara sumber diskusi
Konsep Musikal
Secara khusus, konsep musikal JCGF 2025 menyoroti Gamelan Ajeng, salah satu bentuk gamelan khas yang berkembang di Jakarta dan sekitarnya. Selama ini, Gamelan Ajeng belum banyak dikenal oleh masyarakat Jakarta sendiri, baik dalam bentuk tradisinya maupun potensi artistiknya. Dalam perkembangan musik gamelan kontemporer pun, Gamelan Ajeng nyaris tak mendapatkan ruang eksplorasi yang memadai. Padahal, Gamelan Ajeng menyimpan kekayaan sejarah, struktur musikal, dan karakter bunyi yang sangat khas.
Festival ini menjadi titik awal untuk mengangkat kembali Gamelan Ajeng, tidak hanya sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi penciptaan karya musik baru yang relevan dengan konteks zaman. Tahun ini merupakan edisi perdana festival yang dirancang untuk diselenggarakan setiap tahun di Jakarta. Harapannya, Jakarta Contemporary Gamelan Festival dapat tumbuh menjadi salah satu platform penting di Indonesia dan Asia Tenggara, serta menjadi festival yang bergengsi di tingkat internasional.
Ensemble Kyai Fatahillah dan Iwan Gunawan
Dalam edisi perdana ini, hadir Iwan Gunawan, komponis sekaligus penggerak musik gamelan kontemporer di Indonesia, yang juga memimpin Ensemble Kyai Fatahillah. Sebagai narasumber dalam seminar sekaligus pengisi acara utama, peran Iwan Gunawan menegaskan posisi gamelan bukan hanya sebagai warisan tradisi, melainkan juga sebagai ruang kreasi yang terbuka terhadap gagasan musikal lintas zaman.
Ensemble Kyai Fatahillah menampilkan dua karya yang merepresentasikan dialog musikal lintas budaya: “Crosscurrent” karya Dieter Mack dan “Eusleum” karya Iwan Gunawan. Kedua komposisi tersebut dibawakan dengan format gamelan degung, memperlihatkan kemampuan ensambel dalam merespon tradisi sekaligus menafsirkan ulang melalui perspektif kontemporer.
Foto: Penampilan Iwan Gunawan dan Ensemble Kyai Fatahillah
Kehadiran Iwan Gunawan bersama Ensemble Kyai Fatahillah di JCGF 2025 menjadi momen penting untuk menegaskan kembali bahwa gamelan tidak hanya hidup dalam tradisi, tetapi juga terus tumbuh, bertransformasi, dan menegosiasikan identitasnya di tengah dinamika musik global.
Kontributor FPSD PRESS: Marsel Ridzky
#FPSD PRESS #SDGs