MENCARI, MENEMUKAN DAN BERKEMBANG MELALUI PAMERAN PARALLEL HORIZONS: (Me)NAFSIR 2025
Gambar 1. 1 Proses Apresiasi
Bandung, FPSD PRESS — Himpunan Mahasiswa Seni Rupa UPI (HIMASRA) kembali menyelenggarakan pameran Parallel Horizons dengan tema (Me)NAFSIR. Pameran ini merupakan kali kedua, setelah yang pertama kali diadakan pada tahun 2024. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menargetkan peserta pameran AHIMSA (Alumni Mahasiswa Seni Rupa) dan HIMASRA, kali ini peserta yang tergabung merupakan seniman yang berdomisili Bandung, dengan mekanisme melalui open call dan invitation artist.
Pameran ini berlangsung selama lima hari, terhitung dari tanggal 26 – 30 April. Thee Huis Gallery yang berlokasi di Jl.Bukit Dago Selatan No.53 A, Kecamatan Coblong, kembali dipilih sebagai venue dari pameran parallel Horizons. Bapak Anton Susanto dipilih sebagai kurator karena dianggap memiliki pengalaman yang cukup mumpuni di bidang ke-senirupaan. Salma Amalina Fathaniah, yang merupakan ketua pelaksana mengungkapkan, bahwa “Pameran ini merupakan cara seniman menuangkan pandangan-pandangan mereka dengan menunjukan kebebasan dalam mengekspresikan dirinya ke dalam suatu karya”. Melalui pameran ini juga ia berharap agar HIMASRA bisa menjadi lebih baik serta bisa memperluas jangkauan perserta di kegiatan selanjutnya.
Gambar 1. 2 Pameran
Bapak Anton Susanto dalam catatan kurasinya menjelaskan bahwa Parallel Horizons tahun ini mengusung tema (Me)NAFSIR, sebuah tema yang dibangun dengan hati-hati oleh beliau. Pak Anton berupaya membangun struktur dialektika yang membuka ruang interpretasi luas bagi para peserta. Tema ini dipilih karena diyakini mampu memancing gagasan, mendorong eksplorasi, sekaligus memberikan kebebasan bagi setiap seniman untuk mengelaborasi pemikiran mereka ke dalam bentuk karya seni yang personal dan reflektif.
Para seniman diajak untuk membaca dan menafsirkan "diri" dengan "Me" sebagai "aku" (dalam bahasa Inggris), sebagai pintu masuk dalam merespons pengalaman, identitas, dan ruang-ruang batin mereka masing-masing. Tema ini tidak hanya membuka kemungkinan tafsir secara personal, tetapi juga mengundang percakapan tentang bagaimana diri berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, membentuk sebuah lanskap wacana yang kaya di dalam pameran.
Tema (Me)NAFSIR menawarkan medan tafsir yang luas, salah satunya adalah tentang bagaimana cara seniman menafsir diri masing-masing dengan mempertimbangkan relasinya terhadap perkembangan seni rupa dan peta seni rupa hari ini. Persoalan atau dinamika yang bersifat internal yang kemudian dikomunikasikan dengan situasi terkini dalam ranah seni rupa. Sehingga setiap karya seni yang hadir hari ini merupakan manifestasi dari pertemuan gagasan yang terus berevolusi dalam diri seniman dalam proses kreatifnya yang kemudian menghasilkan keragaman dan kebaruan. Yang secara keseluruhan akan terakumulasi dan membentuk raut wajah seni rupa hari ini.
Gambar 1. 3 Tamu Undangan
Parallel Horizons diselenggarakan melalui serangkaian proses panjang, dengan harapan terciptanya perkembangan yang lebih matang dalam setiap aspeknya. Sebelum pameran berlangsung, HIMASRA menginisiasi program residensi bertajuk REPERTOAR, yang dilaksanakan secara rutin setiap minggu selama satu bulan. Program ini dibangun dengan dua fokus utama yaitu pengkaryaan dan penulisan.
Dalam REPERTOAR, HIMASRA menghadirkan Bapak Nandang Gumelar Wahyudi (Nandanggawe) sebagai narasumber untuk bidang pengkaryaan, memberikan wawasan dan pembekalan yang mendalam kepada para peserta terkait praktik berkesenian. Bapak Nandanggawe menjelaskan bahwa bekal dari residensi ini sangat amat penting bukan hanya untuk pameran ini saja namun untuk bekal berkesenian kedepannya. Untuk penguatan dalam bidang penulisan, HIMASRA turut menggandeng Bapak Anton Susanto sebagai narasumber, yang membagikan pengetahuan dan pengalaman berharga tentang pentingnya refleksi dan artikulasi dalam dunia seni rupa.
Sebagai hasil dari residensi di bidang kepenulisan, Taris Barikan dan Salma Amalina Fathianah turut memamerkan tulisannya dalam bentuk teks kuratorial dengan menampilkan sudut pandang mereka masing-masing sebagai mahasiswa yang mengikuti residensi REPERTOAR, bersebelahan dengan teks kuratorial yang ditulis oleh Pak Anton.
Dengan bimbingan dari kedua narasumber tersebut, para peserta tidak hanya didorong untuk memperkaya eksplorasi artistik mereka, tetapi juga dipacu untuk lebih aktif dalam menuangkan pemikiran dan gagasan melalui tulisan. Proses ini menjadi fondasi penting dalam pelaksanaan Parallel Horizons tahun ini, menandai upaya HIMASRA untuk memperkaya ekosistem seni rupa muda di Bandung, baik dalam karya visual maupun dalam wacana yang mengiringinya.
Dengan mengusung nama Parallel Horizons, program ini memiliki spirit moderat dan membuka diri terhadap berbagai peluang kemungkinan penciptaan karya dengan perspektif dan sudut pandang yang beragam, khususnya dari seniman-seniman muda yang cenderung lebih eksploratif dan juga eksperimentatif. Maka, pada program ini pun tidak membatasi hanya pada satu kecenderungan medium ataupun teknik tertentu.
Pameran ini bukan hanya merayakan hasil kerja kreatif, tetapi juga sebagai wahana reflektif yang saling berkaitan, menawarkan berbagai dialektika, pencerahan maupun katarsis belaka..
Dalam penyelenggaraan Parallel Horizons: (Me)NAFSIR tahun ini, pemilihan untuk mengundang seniman dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkaya dinamika pameran, memperkuat struktur wacana yang dibangun, serta memperluas jangkauan perspektif artistik yang dihadirkan. Kehadiran seniman undangan dimaksudkan untuk menjadi jangkar dialektika, menghadirkan standar pengkaryaan yang dapat merangsang diskusi lebih luas di antara peserta open call maupun publik.
Seniman undangan dipilih berdasarkan pertimbangan praktik artistik mereka yang konsisten mengeksplorasi tema diri, identitas, serta proses penafsiran personal selaras dengan semangat (Me)NAFSIR yang ditawarkan. Dengan demikian, keterlibatan mereka tidak hanya sebagai pengisi ruang pameran, tetapi juga sebagai katalis yang mendorong percakapan dan refleksi, baik di tingkat karya maupun dalam membangun hubungan antar karya.
Lebih jauh, mengundang seniman juga menjadi strategi untuk mempertemukan generasi seniman muda dengan yang lebih berpengalaman dalam satu ruang wacana, memungkinkan terjadinya pertukaran ide, pendekatan, dan perspektif kreatif. Ini sejalan dengan visi Parallel Horizons sebagai program yang moderat, terbuka, serta mendorong keberagaman medium, teknik, dan sudut pandang dalam praktik seni rupa hari ini.
Parallel Horizons: (Me)NAFSIR menjadi tonggak lanjutan dalam perjalanan HIMASRA membangun ruang dialektika seni rupa yang dinamis dan inklusif di Bandung. Dengan semangat memperluas horizon, program ini tidak hanya menghadirkan karya-karya dari seniman muda yang eksploratif melalui open call, tetapi juga memperkaya wacana melalui kehadiran seniman undangan yang menghidupkan percakapan kreatif lintas generasi.
Lebih dari sekadar pameran, Parallel Horizons menjadi wahana berbagi, belajar, dan tumbuh bersama, sebuah upaya untuk terus memperkaya wajah seni rupa Indonesia melalui ruang-ruang yang membuka kemungkinan baru, meneguhkan eksperimentasi, dan merayakan keberagaman dalam proses penciptaan sebuah karya seni.
Penulis: Taris Barikan
Editor: Febri Romaadhon FPSD Press