SCREAMASI: FIKSI ANIMASI YANG MEMUKAU DARI TANGAN PARA ANAK MUDA BERBAKAT
FPSD PRESS – SCREAMASI atau Screening Anak Animasi Vol. 2 hadir sebagai wadah apresiasi dan pengenalan karya hasil kolaborasi para animator muda berbakat, mahasiswa asal program studi Film dan Televisi Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI sebagai salah satu luaran tugas akhir semester 4 Studio Animasi. Acara ini dimulai pada pukul 10.00 WIB, diselenggarakan di Gedung Auditorium FPSD Baru Lt. 7 UPI pada Senin (23/6).
(sumber: FPSD PRESS)
SCREAMASI disambut meriah oleh para penonton, khususnya mahasiswa program studi Film dan Televisi, dosen pengampu, dan masyarakat umum. Para dosen pengampu mengakui banyaknya tantangan yang dialami bersama para mahasiswa Studio Animasi pada tahapan pascaproduksi.
“Terimakasih kepada teman-teman studio animasi 23 yang sudah menuangkan segala-galanya dalam fiksi animasi kali ini. Ini merupakan tantangan bagi saya sebagai dosen pengampu Bersama kang Adit, karena dalam proses pasca produksi sangat menantang dan banyak hambatannya,” jelas Salsa Solli Nafsika M.Pd., atau yang akrab disapa Kang Esa, dosen pengampu Studio Animasi.
“Betul yang dikatakan Kang Essa, kami agak merasa kesusahan dalam proses pasca produksi, bahkan sampai malam tadi film-film yang akan ditayangkan sekarang masih dalam proses kurasi,” jelas Dhisa Aditya Prinera, S.E., M.M., atau yang akrab disapa Kang Adit, dosen pengampu Studio Animasi.
SCREAMASI menayangkan 9 film fiksi animasi dengan berbagai tema yang diangkat dan terbagi ke dalam dua sesi. Whispers of the Horizon (Agni Nurhalisah), Lampah Panungtung (Muhammad Ghesa Ramadhan), Taste of Dreams (Razzan Hasim Kayana), Sparks (Geva Anargya) ditayangkan pada sesi pertama. Ruh (Melza Fahyuni), Dopplegangger (Aneu Natalia), The Seven Astra (Hikmal Akbar Halfian), Famine (Yolla Wulandari), Mei 1998 (Muhammad Syah Nusantara) ditayangkan pada sesi kedua.
Keberagaman penceritaan yang diangkat, memberikan kesan dan pesannya tersendiri. Mulai dari kisah Ibu dan anak, peperangan, kasus pelecehan, ketimpangan sosial, isu mental, hingga sejarah.
Sutradara dari film Doppleganger, Aneu Natalia banyak memainkan warna merah pada filmnya sebagai salah satu sarana mengungkapkan isi ceritanya tentang mental health
.
(sumber: FPSD PRESS)
“Menceritakan seorang mekanik yang susah sembuh secara mental, dan terkena bisikan yang berada dalam dirinya sendiri sehingga memunculkan versi dirinya sendiri karena trauma dan mental yang mendalam. Nuansa merah dalam film aku gambarkan sebagai rasa sakit,” ujar Aneu.
Para sutradara dan timnya mengungkapkan tantangannya dalam proses pembuatan sejak pra hingga pascaproduksi film. Banyaknya hambatan yang dialami, mulai dari pengelolaan jadwal, crew, proses membangun cerita, hingga observasi yang harus dilakukan secara nyata dan mendalam.
“Tantangannya lebih ke teknis dan crew, bela-belain ke Jakarta untuk observasi sebuah tempat untuk dimasukkan ke dalam film,” ungkap Geva Anargya, sutradara film Sparks.
Namun dibalik setiap perjuangan para mahasiswa Studio Animasi FTV angkatan 23, apresiasi dan rasa bangga turut hadir mewarnai proses dan hasil mereka.
“Sangat-sangat memberi insight bagi saya sendiri sebagai animator, fiksi animasi kali ini lumayan bervariasi dalam segi cerita dan interpretasinya,” jelas Dava Gibran, mahasiswa Studio Animasi angkatan 21.
SCREAMASI menjadi acara dan tempat untuk berbagi ilmu dan belajar serta wadah untuk mengenal dunia animasi lebih baik bagi siapapun dan tentunya memiliki tempat tersendiri bagi para mahasiswa Studio Animasi FTV angkatan 23.
Reporter: Fiore Aditya
Editor: Nayla Putri Lisandi