Tema: “Mengemas Seni Tradisi untuk Dunia dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif di Era Digital”
Muniverse 4.0: Seminar dan Workshop Nasional \"Mengemas Seni Tradisi untuk Dunia dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif di Era Digital\" sukses digelar pada 10 Desember 2024 di Smart Class, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD), Universitas Pendidikan Indonesia. Acara ini menjadi wadah bagi para akademisi, praktisi seni, dan mahasiswa untuk menggali potensi seni tradisi dalam mendukung ekonomi kreatif dan pariwisata di era digital.
Menghadirkan lima pembicara terkemuka, seminar ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana seni tradisi dapat beradaptasi dengan teknologi modern. Erwin Moron, musisi sekaligus entertainer, menekankan pentingnya mental yang kuat dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia menyarankan agar para seniman terus berpikir kompetitif dan tidak ragu untuk berkolaborasi demi menghasilkan karya berkualitas yang mampu bersaing di kancah global.
Kadek Anggara, seorang praktisi musik dari Bali, berbagi pandangannya mengenai peran musik tradisional Bali dalam mendukung pariwisata. Ia menjelaskan bahwa musik tradisional Bali, yang berakar pada konsep Tri Hita Karana, terus berkembang sesuai kebutuhan global, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan ritualnya. Upaya ini juga didukung oleh masyarakat yang meningkatkan fasilitas dan alat musik tradisional sebagai bagian dari daya tarik pariwisata.
Dari Lombok Utara, Raden Prawangsa Jaya Ningrat, seorang pemangku adat Sokong, menggarisbawahi seni tradisi sebagai jati diri bangsa yang harus dilestarikan. Di era digital, seniman tradisional menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan teknologi dan kebutuhan pasar. Raden menyoroti pentingnya program dukungan pemerintah, seperti yang dilakukan terhadap Penting Gambus, untuk mengembangkan seni tradisi dalam konteks ekonomi kreatif.
Rita Tila, dosen musik tradisi Universitas Pendidikan Indonesia, menyoroti potensi besar pengembangan ekonomi kreatif di bidang musik tradisional. Ia menegaskan perlunya upaya strategis untuk memberdayakan pelaku musik tradisional melalui peningkatan akses pasar dan fasilitasi kolaborasi antar-pemangku kepentingan. Dengan mengatasi tantangan yang ada, musik tradisional tidak hanya dapat melestarikan budaya Indonesia tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional.
Wahyu Roche, seorang ASN, komposer, dan pencipta lagu, menutup sesi dengan pandangan tentang pentingnya pengemasan seni tradisi yang menarik untuk menarik minat dunia internasional. Ia mendorong pemanfaatan digitalisasi untuk memperluas jangkauan seni tradisi, sekaligus mempromosikan pariwisata melalui seni sebagai sarana yang efektif. Wahyu juga menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi antarnegara untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni tradisi Indonesia di kancah global.
Muniverse 4.0 tidak hanya menjadi ajang diskusi intelektual, tetapi juga memotivasi para peserta untuk menciptakan terobosan baru dalam mengintegrasikan seni tradisi dengan teknologi digital. Dengan dukungan penuh dari Prodi Musik FPSD Universitas Pendidikan Indonesia, acara ini menjadi bukti nyata komitmen dalam melestarikan seni tradisi sekaligus mengembangkannya dalam konteks ekonomi kreatif yang relevan di era modern.
Kontributor tulisan: Enry Johan Jaohari, Shivani Ramadhanty***